Selasa, 03 Juni 2014

BI pada perbankan


Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
BUSINESS INTELLIGENCE PADA PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdVCWgVEgLusaoWqakC39YgiAm6NoMh2SXhyphenhyphentCD4FHZSqrkwaMGcfETXF5MvZTkjcsYjIdzENm-bMlz8_n6_1RuyC9f1IlWfiC_UM3FqrWZSiYitBNf-EDfMkUa5D7KQoVY8qzPED12KA0/s1600/392376_20121206044233.gif



Nama Kelompok :
Christian Tang (1501170822)
Rahman (1501167746)
Martin Sinaga (1501172191)
Hans Sihuandy (1501158464)
Susan Prasetio (1501143632)



Abstrak
Saat ini penerapan Business Intelligence begitu banyak karena membawa manfaat yang besar bagi perusahaan. Saat ini penerapan Business Intelligence banyak dipakai pada perbankan, tempat-tempat usaha, dan lain-lain.
Dengan penerapan Business Intelligence pada perusahaan, diharapkan manajemen informasi akan dengan mudah diatur seperti pembuatan laporan, pengisian data-data baru, dan lain-lain. Untuk hal ini pada perbankan, Business Intelligence dapat dipakai untuk mengelola data-data yang begitu sensitif seperti data rekening nasabah, laporan keuangan, dan lain-lain.
Dalam penerapannya seperti ATM, ATM akan dikoneksikan dengan server database rekening yang tersebar di mana-mana. Dan isi server satu dengan yang lain akan sama sebagai backup seandainya salah satu server mengalami masalah.











BAB 1
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Pada kemajuan teknologi saat ini, perusahaan membutuhkan suatu metode yang dapat mengendalikan jumlah data yang digunakan dan dibutuhkan oleh suatu perusahaan. hal tersebut berguna untuk membantu perusahaan dalam mempermudah  pihak-pihak perusahaan menerima dan mengendalikan data yang dibutuhkan sehingga dapat meningkatkan kinerja suatu karyawan di tiap divisi yang ada di perusahaan tersebut.
Perusahaan melakukan penyimpanan data pada suatu database, namun data yang disimpan tersebut masih memiliki kelemahan disaat data tersebut ingin dipresentasikan. Oleh karena itu pihak perusahaan khusus nya perusahaan perbankan, menggunakan suatu metode yang dikenal sebagai Business Intelligence.
Business Intelligence merupakan suatu metode yang digunakan untuk melakukan ekstrasi data yang dimiliki suatu perusahaan dan dikelompokan menjadi beberapa kelompok, data yang dikelompokan tersebut dimasukan pada suatu data warehouse.
Data yang dimasukan ke dalam data warehouse digunakan oleh pihak perusahaan sebagai acuan dalam melakukan analisa mengenai perkembangan dan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan. data yang diolah tersebut diringkas agar dapat memudahkan pihak perusahaan menyampaikan penjelasan pada pihak nasabah atau pihak customer yang melakukan transaksi pada perusahaan.

  1. Ruang Lingkup
Pada pembuatan paper ini, ditentukan batasan-batasan yang akan dibahas, batasan-batasan tersebut terdiri dari:
  1. Sejarah/latar belakang  PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk
  2. Penerapan Business Intelligence pada PT Bank Mnadiri (PERSERO) Tbk
  3. Dampak daripada penerapan Business Intelligence
  4. Contoh Perusahaan yang menerapkan Business Intelligence.


  1. Tujuan dan Manfaat
    1. Tujuan

  1. Mempelajari dan menganalisa Business Intelligence.
  2. Mempelajari sistem yang digunakan.
  3. Menjelaskan pengertian dari Business Intelligence.
  1. Manfaat
  1. Mengetahui isi dari pembahasan bagi kaum awam.
  2. Mendapatkan benefit dari penerapan Business Intelligence.
  3. Menganalisa lebih dalam penerapan Business Intelligence.

  1. Metodologi Penulisan
Pada penulisan paper ini, diterapkan suatu metodologi studi pustaka yang dimana mengambil informasi yang dibutuhkan menggunakan mesin pencari (browser) yang terkoneksi dengan media jaringan informasi (internet).

BAB 2
LANDASAN TEORI
Dalam penerapan  Business Intelligence di berbagai bidang maupun perusahaan pasti mempunyai tujuan yang sama tanpa terkecuali. Istilah intelijen bisnis (bahasa Inggris: business intelligence, BI) merujuk pada teknologi, aplikasi, serta praktik pengumpulan, integrasi, analisis, serta presentasi informasi bisnis atau kadang merujuk pula pada informasinya itu sendiri. Tujuan intelijen bisnis adalah untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
       Sistem BI memberikan sudut pandang historis, saat ini, serta prediksi operasi bisnis, terutama dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan ke dalam suatu gudang data dan kadang juga bersumber pada data operasional. Perangkat lunak mendukung penggunaan informasi ini dengan membantu ekstraksi, analisis, serta pelaporan informasi. Aplikasi BI menangani penjualan, produksi, keuangan, serta berbagai sumber data bisnis untuk keperluan tersebut, yang mencakup terutama manajemen kinerja bisnis. Informasi dapat pula diperoleh dari perusahaan-perusahaan sejenis untuk menghasilkan suatu tolak ukur.
Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi dari Business Intelligence, di antaranya:
Secara umum Business Intelligence (BI) merupakan sebuah proses untuk melakukan ekstraksi data-data operasional perusahaan dan mengumpulkannya dalam sebuah data warehouse yang selanjutnya diproses menggunakan berbagai analisis statistik dalam proses data mining, sehingga didapat berbagai kecenderungan atau pattern dari data (Choirul, 2011).
Business Intelligence adalah rangkaian aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menyuguhkan akses data untuk membantu petinggi perusahaan dalam pengambilan keputusan (Stevans, 2012).
Business Intelligence (BI) merupakan representasi dari aplikasi dan teknologi untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisa dan menyediakan akses terhadap data untuk membantu user dalam suatu perusahaan untuk mengambil keputusan yang lebih baik (Nirwasita,2012).
Business Intelligence adalah proses mengekstrak, transformasi, mengelola, dan menganalisis data bisnis untuk mendukung pengambilan keputusan. Dalam proses ini pada umumnya melibatkan data set dalam jumlah besar yang tersimpan dalam datawarehouse. Proses business intelligence meliputi lima tahapan yaitu Pengumpulan data, Analisis data, Kesadaran situasi, Penilaian risiko, dan Dukungan pengambilan keputusan. (Niu, 2012).



BAB III
PEMBAHASAN
  1. Awal mula dari perkembangan Business Intelligence
Dalam sebuah artikel 1958, peneliti IBM Hans Peter Luhn menggunakan istilah intelijen bisnis. Dia mendefinisikan kecerdasan sebagai "kemampuan untuk menangkap keterkaitan dari fakta-fakta yang disajikan sedemikian rupa untuk membimbing tindakan ke arah tujuan yang dikehendaki."
Pada tahun 1989 Howard Dresner (kemudian seorang analis Gartner Group) mengusulkan BI sebagai payung istilah untuk menggambarkan "konsep-konsep dan metode untuk meningkatkan pengambilan keputusan bisnis dengan menggunakan dukungan berbasis fakta-sistem." Tidak sampai akhir tahun 1990-an bahwa penggunaan ini tersebar luas.
Business intelligence dan data warehousing
Aplikasi data BI berasal dari data warehouse atau data mart. Namun, tidak semua aplikasi business intelligence memerlukan data warehouse
Bisnis intelijen dan analisis bisnis 
Thomas Davenport telah berpendapat bahwa business intelegnce harus dibagi ke dalam query, pelaporan, OLAP, atau sebuah "tanda" alat, dan analisis bisnis .
Faktor Kritis Keberhasilan Implementasi Business Intelligence 
Walaupun mungkin ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses implementasi sistem BI, penelitian oleh Naveen menunjukkan, berikut adalah faktor-faktor keberhasilan kritis untuk pelaksanaan intelijen bisnis: 

a. Bisnis & didorong metodologi manajemen proyek 
b. Visi yang jelas & perencanaan 
c. Berkomitmen dukungan manajemen & sponsor 
d. Manajemen data & masalah kualitas 
e. Pemetaan solusi untuk kebutuhan pengguna 
f. Pertimbangan kinerja sistem BI 
g. Kerangka yang kuat & extensible

  1. PT BANK MANDIRI(PERSERO) Tbk
PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk. ((Indonesia) Bursa Efek Indonesia: Profil Bank Mandiri) adalah bank yang berkantor pusat di Jakarta, dan merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit. Bank ini berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), digabungkan ke dalam Bank Mandiri.


  1. Perapan Business Intelligence pada PT BANK MANDIRI(PERSERO)Tbk
Bank Mandiri terus berkomitmen meningkatkan layanan kepada nasabah melalui penguatan infrastruktur teknologi informasi (TI), sehingga dapat mendorong tingkat kepuasan nasabah dalam bertransaksi di Bank Mandiri.
Bank Mandiri dalam pengembangan infrastruktur TI tersebut juga akan mendukung pengembangan bisnis Bank Mandiri pada 2010, antara lain bisnis retail payment untuk meningkatkan penghimpunan dana murah, pengembangan high yield business, peningkatan jasa pelayanan nasabah korporasi dengan memperluas jasa layanan, membangun sinergi antar unit bisnis termasuk kantor wilayah dan unit pendukung secara menyeluruh, serta optimalisasi sinergi dengan anak perusahaan.
Sementara itu, Aliansi Unit Bisnis akan difasilitasi dengan sistem Customer Relationship Management yang terintegrasi dan dilengkapi Business Intelligence untuk meningkatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Bank Mandiri juga mengembangkan piranti Integrated Regulatory Reporting System dan Enterprise Risk Management untuk memastikan tata kelola perusahaan dijalankan dengan baik.
Bank Mandiri adalah salah satu bank terkemuka di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada nasabah yang meliputi segmen usaha Corporate, Commercial, Micro & Retail, Consumer Finance dan Treasury & International Banking. Bank Mandiri pada saat ini memiliki anak-anak perusahaan untuk mendukung bisnis utamanya yaitu: Mandiri Sekuritas (jasa dan layanan pasar modal), Bank Syariah Mandiri (perbankan syariah), AXA-Mandiri Financial Services (asuransi jiwa), Bank Sinar Harapan Bali (UMKM) serta Mandiri Tunas Finance (jasa pembiayaan),
Per 30 September 2009, kredit tumbuh 15,7% (Year on Year) atau sebesar Rp 25,5 triliun, yaitu dari Rp 162,8 triliun menjadi Rp 188,3 triliun. Jumlah dana murah meningkat 17,6% atau sebesar Rp 25,4 triliun, yaitu dari Rp 143,8 triliun menjadi Rp 169,1 triliun. Net Interest Margin (NIM) mengalami penurunan dari 5,46% menjadi 5,21%. Cost Efficiency Ratio (CER) membaik dari 43,0% menjadi sebesar 39,0%. Rasio Net NPL terjaga di level 0,85%. Laba bersih mencapai Rp 4,62 triliun, atau tumbuh 16,8% dari pencapaian periode yang sama tahun 2008 yang tercatat sebesar Rp 3,95 triliun.
Komponen Dasar BI
Pada dasarnya komponen BI mencakup gathering, storing, analyzing dan providing access to data. Dan penggunaan Business Intelligence tidak dipungkiri memiliki keamanan yang kurang dan timbul masalah di berbagai perusahaan lain , contohnya :
a. Manager Promosi ingin menganalisis pengaruh tiap jenis media iklan di koran, majalah, dan TV terhadap penjualan produk.
b. Manager HRD dapat menganalisis pengaruh kenaikan gaji terhadap peningkatan produktivitas pekerja di lantai pabrik.
c. Manajer Penjualan ingin mengetahui pengaruh musim dan kepadatan penduduk terhadap penjualan es krim di tiap daerah
DAMPAK POSITIF(KENUNTUNGAN) /VALUE BAGI PT MANDIRI PERSERO Tbk
Dalam penerapannya pun memiliki banyak keuntungan yang sangat banyak bagi pt perbankan khususnya dikarenakan penggunaan nya dan penerapannya menguntungkan nasabah bagi kenyamanan bertransaksi dan mendapatkan feedback dari nasabah kepada Bank Mandiri untuk semakin banyak menabung dan memberikan kenyamanan bagi setiap nasabahnya .
VALUE yang diperoleh  antara lain :
  • Konsolidasi informasi Dengan BI dijalankan di dalam perusahaan, data akan diolah dalam satu platform dan disebarkan dalam bentuk informasi yang berguna (meaningful) ke seluruh organisasi. Dengan ketiadaan information assymmetry, kolaborasi dan konsolidasi di dalam perusahaan dapat diperkuat. Dengan konsolidasi, maka dapat dimungkinkan pembuatan cross-functional dan corporate-wide reports. Meskipun harus diakui, benefit ini juga mampu disediakan oleh software ERP.
  • In-depth reporting Software Business Process Management (BPM) memang mampu memberikan report dan analisis, namun cukup sederhana dan hanya bertolak pada kondisi intern. Sedangkan BI mampu menyediakan informasi untuk isu-isu bisnis yang lebih besar pada level strategis.
  • Customized Graphic User Interface (GUI) Beberapa ERP memang berusaha membuat tampilan GUI yang user friendly, namun BI melangkah lebih jauh dengan menyediakan fasilitas kustomisasi GUI. Sehingga tampilan GUI jauh dari kesan teknis dan memberikan view of business sesuai dengan keinginan masing-masing user.
  • Sedikit masalah teknis karena sifatnya yang user friendly meminimasi kemungkinan operating error dari user, dan BI hanya merupakan software pada layer teratas (information processing) dan bukan business process management.
  • Biaya pengadaan rendah karena BI hanya software yang bekerja pada layer teratas dari pengolahan informasi, harga software-nya tidak semahal ERP. Biaya pengadaannya pun menjadi lebih murah dibandingkan ERP. Apalagi saat ini banyak ditunjang juga oleh produk BI yang open source.
  • Databank BI yang fleksibel membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan ERP sebagai pemasok databank yang akan diolah menjadi reports dan scorecard, namun BI juga dapat bekerja dari databank yang dibuat terpisah. BI pun menjadi terbuka untuk digunakan oleh analis profesional dan peneliti, yang data olahannya bersifat sekunder.
  • Kecepatan (responsiveness) merupakan sifat BI lain yang tidak dimiliki oleh ERP. Misalnya pada penghitungan service level sebagai salah satu Key Performance Indicator (KPI). Fungsi BI akan memberikan peringatan kepada user sebelum batas bawah dalam service level (lower limit) terlampaui. Akibatnya masalah bisa ditangani sebelum benar-benar muncul ke permukaan. Salah satu contoh pada responsiveness adalah industri kesehatan, penggunaan BI berjasa mencegah penyebaran suatu penyakit/wabah secara luas (outbreak). Nama-nama vendor BI memang masih asing di Indonesia.


BAB 4
KESIMPULAN
Bank Mandiri mempunyai motto terdepan,terpercaya,terkemuka maka dari penerapan Business Intelligence telah diketahui memiliki banyak value bagi setiap perusahaan, maka diharapkan penerapan Business Intelligence  makin dikembangkan seiiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang ada sekarang diseiimbangkan agar setiap perusahaan khususnya perbankan dapat memberi kenyamanan  bagi setiap nasabahnya.

REFERENSI
http://subaridargombez.wordpress.com/2008/09/30/business-intelligence-bi-membuat-hidup-data-lebih-hidup/
http://bisnisonlineratih.blogspot.com/2013/10/business-intelligence.html
http://business-intelegence.blogspot.com/2009/12/sejarah-bi_31.html
http://ir.bankmandiri.co.id/phoenix.zhtml?c=146157&p=irol-newsArticle_Print&ID=1436548&highlight=

www.binus.ac.id

Senin, 19 Mei 2014

Editorial Management System pada Software Atex



Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
EDITORIAL MANAGEMENT SYSTEM PADA SOFTWARE ATEX


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdVCWgVEgLusaoWqakC39YgiAm6NoMh2SXhyphenhyphentCD4FHZSqrkwaMGcfETXF5MvZTkjcsYjIdzENm-bMlz8_n6_1RuyC9f1IlWfiC_UM3FqrWZSiYitBNf-EDfMkUa5D7KQoVY8qzPED12KA0/s1600/392376_20121206044233.gif






Nama Kelompok :
Christian Tang (1501170822)
Rahman (1501167746)
Martin Sinaga (1501172191)
Hans Sihuandy (1501158464)
Susan Prasetio (1501143632)


Abstrak
Saat ini dengan kemajuan teknologi informasi menuntut segala informasi harus mengalir dengan begitu cepat. Setiap orang pada dewasa ini membutuhkan informasi yang terbaru setiap harinya.
Oleh karena itu, perusahaan yang bergerak di bidang media publikasi juga dituntut untuk bias menyampaikan informasi dengan cepat dan akurat setiap harinya. Maka diciptakanlah teknologi yang disebut Editorial Management System (EMS) yang dapat membantu penerbit untuk mengawasi kelengkapan konten majalah dan koran secara real-time. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses pengembangan konten untuk tiap edisi yang akan dipublikasikan.
Ada banyak sekali software EMS yang tersedia di pasaran dan harganya juga sayangnya selangit, seperti Atex, Adobe InCopy, Adobe InDesign dan lain-lain.












BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Pada saat ini proses mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan menggunakan perantara media yang menghasilkan informasi secara digital yang dimana membuat pengguna merasa lebih menarik dan lebih mudah daripada metode membaca. Namun pada saat ini juga tidak sedikit yang masih menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang disenangi sehingga secara tidak disadari pengguna mendapatkan informasi dari membaca.
            Membaca pada saat ini dilakukan pada berbagai jenis aktivitas sehari-hari, namun membaca juga biasa diterapkan pada jenjang pendidikan yang dimana membaca merupakan sarana mendapatkan informasi berupa pengetahuan yang dibutuhkan, membaca yang dimaksud yaitu mengambil informasi dari media cetak , seperti buku, Koran, brosur, dsb.
            Namun tidak ada yang menyadari ternyata proses media cetak mencetak informasi yang dibaca oleh pembaca tersebut melalui proses yang sangat sulit. Oleh karena itu semakin berkembangnya teknologi informasi, maka perusahaan media cetak melakukan inovasi dengan menerapkan metode yang disebut sebagai editorial management system.
            Editorial Management System merupakan suatu metode yang diterapkan pada suatu system yang diharapkan mampu membantu pihak editor dalam melakukan penginputan dan pengawasan pada proses memasukan data yang akan dijadikan sebagai artikel pada suatu media cetak. Yang diharapkan informasi yang tercetak pada media cetak tersebut dapat terlihat menarik dan disenangi oleh pembaca.

1.2  Ruang Lingkup
       Pada pembuatan paper ini, ditentukan batasan-batasan yang akan dibahas , batasan-batasan tersebut terdiri dari :
1.      Menjelaskan sejarah dari Publikasi Koran
2.      Menjelaskan sistem Editorial Management System
3.      Menjelaskan dampak positif yang dihasilkan dari Editorial Management System
4.      Menjelaskan mengenai perusahaan yang menerapkan Editorial Management System

1.3  Tujuan dan Manfaat
1.3.1        Tujuan
1.      Membantu pihak pembaca agar lebih mudah dalam mendapatkan informasi pada saat membaca
2.      Memberikan daya imajinatif pada pihak pelajar karena struktur yang dihasilkan dari teks yang dibaca pada media cetak
3.      Memberikan pengertian mengenai dampak yang dihasilkan Editorial Management Plan pada perusahaan yang memiliki masalah khususnya pada bidang editorial
1.3.2        Manfaat
1.      Meningkatkan nilai positif bagi perusahaan
2.      Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Editorial Management System
3.      Meningkatkan inovasi bagi karyawan di perusahaan yang bergerak pada bidang media cetak

1.4  Metodologi Penulisan
      Pada penulisan paper ini, diterapkan suatu metodologi studi pustaka yang dimana mengambil informasi yang dibutuhkan menggunakan mesin pencari (browser) yang terkoneksi dengan media jaringan informasi (internet).


BAB 2
LANDASAN TEORI
Dalam menjamin pengisian kontan majalah yang sesuai dengan kaidah yang ada, diperlukan Editorial Management System yang memadai dan terstruktur. Sebelumnya, perlu diketahui apa itu Content Management karena Editorial Management System merupakan bagian dari Content Management itu sendiri.
Menurut Rouse (2011), Content Management adalah administtasi konten digital melalui siklus hidupnya, dari pembuatan sampai penyimpanan dan penghapusan permanen. Konten yang dilibarkan bias berupa gambar, video, audio, dan multimedia serta teks.
Pada software yang dibahas ini (Atex), akan dibahas bagaimana cara kerja software tersebut dalam mengelola pemublikasian media cetak.

BAB 3
PEMBAHASAN
Sejarah Publikasi Media Cetak
Sebelum membahas EMS lebih lanjut, mari dipahami tentang sejarah penerbitan koran itu sendiri.
Pada awalnya, orang-orang menyebarkan berita dari mulut ke mulut. Mereka biasanya memberitakan tentang berita suka cita, duka cita, pernikahan dan perceraian.
Pada awal era tulis-menulis, penyebaran berita semakin bisa diandalkan. Salah satu berita pertama yang ditulis diterbitkan pada tahun 59 SM oleh Forum Roma. Biasanya berita yang ditulis berjenis kejadian politik, persidangan, skandal dan aktivitas militer.
Di negara China, memulai produksi lembaran-lembaran berita yang disebut Tipao pada era dinasti Han (tahun 202 SM – 221 M) dan memulai pencetakan massal pada era dinasti T’ang (tahun 618 – 906).
Pada tahun 1450-an, ilmuwan Eropa bernama Johann Gutenberg menemukan sistem percetakan dengan metode penekanan huruf. Dan kertas yang dicetak tersebut salah satunya dipakai oleh Christopher Columbus yang dikenal sebagai penjelajah dunia.
Pada abad ke-16 sampai ke-17, telah tercetak ribuan buku berita dan pamflet pendek yang mendeskripsikan beberapa berita. Salah satunya adalah laporan berita gempa bumi di Guatemala dan dicetak di Meksiko pada tahun 1541.
Namun media-media tersebut belum bisa dikualifikasikan sebagai koran sampai pada abad ke-19 China memperkenalkan koran modern untuk konsumen. Walaupun demikian, cikal bakal koran modern sebenarnya telah hadir sejak abad ke-17 yang sampai sekarang beberapa koran tersebut masih dipajang di berbagai museum di Eropa.
Pada awal abad ke-17, sudah mulai banyak perusahaan media cetak memproduksi koran namun masih terbit mingguan. Kebanyakan mereka ada di negara-negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Jerman, dan lain-lain.
Dengan kemajuan informasi, pada akhirnya ada koran yang berani meningkatkan frekuensi terbitnya, seperti sebuah koran di Jerman yang diterbitkan oleh Lucas Schulte sejak tahun 1625 terbit dua kali seminggu. Setelah itu, makin meningkat lagi frekuensinya menjadi setiap hari dengan ditandai dengan munculnya koran Einkommende Zeitung pada tahun 1650.
Penyebaran koran pada akhirnya juga sampai ke benua Amerika dengan ditandai oleh hadirnya koran Foreign dan Domestick pada tahun 1690. Kemudian dilanjutkan oleh koran-koran lainnya seperti Boston Gazette pada tahun 1719, New York Gazette pada tahun 1725, dan lain-lain.
Tak hanya masalah penyebaran koran, berbagai standar hukum juga diperkenalkan untuk mendukung perkembangan koran. Beberapa di antaranya adalah The Licensing Act pada tahun 1695, The Stamp Act pada tahun 1765, The Townshend Acts pada tahun 1767, dan lain-lain.
Setelah semakin luas penyebaran koran dan standar hukumnya, maka makin banyak persaingannya terutama dari media elektronik. Dan demi memenuhi tuntutan zaman yang telah berbasi steknologi informasi ini, perusahaan media cetak juga memberlakukan sistem manajemen editorial (EMS) guna meningkatkan ketepatan waktu publikasi korannya.


Sistem Editorial Management System
Lebih dari apapun dalam sejarah perindustrian, sebuah surat kabar bottom-line dan kemampuannya untuk bersaing dipengaruhi oleh kemampuan sistem manajemen konten.
Dengan Tera koran GN4 Sistem Editorial Content Management Miles 33, kini dalam generasi keempat, bisnis media cetak memiliki alat untuk bersaing di lingkungan penerbitan multi-channel.
Sebuah sistem manajemen konten editorial diukur dengan dukungannya terhadap format media yang beragam dan spektrum yang luas dari saluran penerbitan, dukungan untuk secara geografis tenaga kerja dan biaya total kepemilikan. Dengan GN4, Cloud computing berbasis SaaS menjadi bagian standar dari metrik CMS.
Dibangun pada Content Management Services Architecture (CMSA), Tera GN4 dirancang untuk mengantisipasi dunia publikasi media cetak yang semakin hari semakin menggila. Tera GN4 dibangun dari komponen yang bersifat integral, bukan terintegrasi, yang di mana bersama-sama dengan konten tunggal untuk produksi dan pengarsipan. Konten konsumsi, lengkap dengan data dan validasi metadata, transformasi dan normalisasi, merupakan bagian dari arsitektur yang tidak terpisahkan.
Struktur Artikel pelanggan yang terkonfigurasi berarti konten pelanggan diatur untuk mendukung lingkungan penerbitan yang ada, seperti judul baru, website, zona, format konten dan teknologi presentasi. GN4 dapat dikonfigurasi ulang oleh pelanggan untuk memenuhi perubahan kebutuhan. Semua elemen cerita, tidak peduli apa media, dapat dikaitkan dan kemudian bekerja bersama-sama untuk menjaga integritas potongan. Namun, artikel-artikel yang telah dibuat dapat diedit pada waktu yang sama oleh beberapa individu.

Dampak Positif Yang Ada dengan Editorial Management System
Hadirnya teknologi CMS - Content Management System Editorial membuat banyak sekali keuntungan yang sebagaimana dijelaskan pada tabel dibawah ini.
Manfaat
Sebelum EMS
Setelah EMS
Sentralisasi dan berbagi konten
Konten tersebar di seluruh organisasi, sehingga kontributor membuat konten yang sama atau duplikat dalam berbagai format.
Konten ini dikonsolidasikan ke dalam satu repositori kuat, memfasilitasi berbagi konten antara rekan kerja.
Konten Akurat
Banyak versi dokumentasi berada dalam file terpisah.Setiap file harus diperbarui secara individual melalui proses manual, yang menyebabkan kesalahan dan ketidakakuratan.
Karena setiap bagian dari konten hanya disimpan satu kali dalam CMS, dapat digunakan kembali sepanjang satu atau beberapa dokumen.  CMS melacak setiap contoh penggunaan kembali konten dan bendera semua contoh ketika perubahan dibuat untuk memastikan semua contoh yang tepat diperbarui dan konsisten.
Konten aman
Siapapun dapat mengakses konten dalam dokumen, berpose ancaman keamanan.
Hak pengguna ditugaskan, sehingga orang hanya berwenang dapat mengakses konten dengan ID yang unik.
Siklus editorial Shorter
Proses editorial dan review tidak efisien. Tanggung jawab dan tenggat waktu yang tidak didefinisikan dengan baik dan dipantau.
Pengguna disiagakan untuk tugas-tugas tertunda dan tanggal jatuh tempo. Selain itu, tugas-tugas editorial harian dapat otomatis untuk menghemat waktu.
Penciptaan cepat dari publikasi baru
Konten ditulis ulang untuk publikasi baru karena konten yang ditulis sebelumnya tidak dapat ditemukan.
Konten dapat dicari, diambil, dan digunakan kembali untuk membuat produk baru dalam hitungan menit.
Pengiriman tepat waktu publikasi
File terpisah ada untuk cetak, web, dan versi PDF konten, meningkatkan waktu yang diperlukan untuk memperbarui dan mempublikasikan konten.
Konten sumber tunggal diperbarui sekali dan repurposed untuk beberapa saluran media sesering harian atau mingguan.
Biaya penerjemahan yang lebih rendah
Dokumentasi yang diterbitkan dalam banyak bahasa membingungkan dan mahal untuk memperbarui dan menerjemahkan.
Sebuah CMS dengan dukungan Unicode penuh memungkinkan potongan kecil konten diperbarui untuk diterjemahkan bukan seluruh dokumen, menghemat ribuan dolar.

Teknologi EMS pada Atex Editorial Content Management System
The Atex Editorial Content Management System adalah sebuah platform yang komprehensif yang dirancang untuk membantu multi-channel newsroom dalam membuat, mengelola dan menyampaikan konten untuk setiap cetak atau saluran digital, tetap menjaga batas waktu yang ketat dan kualitas standar jurnalistik tertinggi. The Atex Editorial CMS digunakan oleh lebih dari 68.000 penulis, editor dan kontributor bekerja di beberapa yang paling menuntut, inovatif dan bergengsi perusahaan media di dunia.
Ada beberapa fitur unggulan pada Atex Editorial Management System, seperti Multi-channel Publishing, Archive and Asset Management dan Newsroom Content Management.

BAB 4
KESIMPULAN
Dengan zaman modern sekarang ini yang menuntut segalanya serba cepat, diharapkan dengan hadirnya EMS dapat menunjang para pelaku bisnis media untuk dapat menyampaikan berita dengan lebih cepat dengan dukungan terbit setiap hari seperti koran harian.
Setiap orang pastinya membutuhkan segalanya dengan cepat. Maka dengan hadirnya EMS dapat mendukung percepatan penyampaian informasi dan meminimalisir kesalahan konten.

REFERENSI
http://whatis.techtarget.com/definition/content-management-CM
https://www.nyu.edu/classes/stephens/Collier%27s%20page.htm
http://library.walisongo.ac.id
http://www.scribd.com
http://www.atex.com/products/editorial-cms

www.binus.ac.id