Senin, 10 Maret 2014

Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi Disaster Management Pada Perusahaan Telkomsel


Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Disaster Management Pada Perusahaan Telkomsel











Nama Kelompok
Christian Tang (1501170822)
Rahman (1501167746)
Martin Sinaga (1501172191)
Hans Sihuandy (1501158464)
Susan Prasetio (1501143632)







Abstrak

Pada zaman modern saat ini, seluruh warga dunia tidak akan luput dari bencana, baik bencana alam maupun bencana yang merupakan akibat dari perilaku diri kita sendiri. Bencana sendiri akan terus menghantui kita semua seumur hidup, namun kita sebagai manusia hanya bisa menyiasati bencana tersebut agar tidak menimbulkan kerusakan yang parah. Di sinilah dimana Pengelolaan Bencana (Disaster Management) berperan sangat penting. Mengambil dari kalimat pepatah, "Sedia payung sebelum hujan", kita harus mempersiapkan segalanya sebelum bencana terjadi, misalnya menyelamatkan semua peralatan rumah tangga sebelum banjir terjadi.
Paper ini berfokus pada definisi bencana, pengelolaan bencana, serta contoh perusahaan yang berpengalaman dalam mengelola bencana. 

Kata Kunci : Disaster, Disaster Management, Management

Bab I
Pendahuluan

1.1  Latar Belakang

            Semua orang hidup tidak akan lepas dari berbagai masalah, salah satunya adalah bencana (disaster). Bencana adalah sesuatu yang bersifat merusak dan merugikan. Banyak sekali kerugian yang ditimbulkan oleh bencana, seperti hilangnya tempat tinggal, mata pencaharian, pelayanan publik, perekonomian, bahkan nyawa. Dalan nilai mata uang, biasanya bencana dapat mengakibatkan kerugian mulai ratusan juga hingga miliaran rupiah.
            Bencana sendiri tidak bisa dikendalikan, namun kita bisa meminimalisir dampaknya. Ada banyak langkah preventif untuk menghadapi bencana sebelum bencana tersebut dapat mengalami kerugian yang lebih besar. Tata kota yang minimalis dan rapi juga turut membantu meminimalisir dampak bencana. Selain tata kota, pencegahan aktif terhadap bencana juga akan sangat membantu, seperti bangunan tahan gempa dan dataran bangunan yang tinggi.
            Untuk kali ini, kami akan membahas bagaimana pengelolaan bencana (disaster management) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bernafaskan teknologi informasi (Information Technology/IT). Namun pengelolaan bencana yang biasa dilakukan oleh perusahaan IT adalah bagaimana cara mengembalikan kondisi layanan seperti sedia kala begitu bencana terjadi di satu lokasi, dan bagaimana menjaga data kepunyaan stakeholders di tengah bencana agar tetap bisa diakses di manapun dan kapanpun.
            Sebelum dibahas lebih lanjut. Mari kita telaah apa arti dari bencana dan pengelolaan bencana.
Menurut Undang-undang No.24 tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
            Masih dalam undang-undang yang sama, pengelolaan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi
           
Ada banyak sekali tujuan dari Disaster Management di antaranya adalah:
            o Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana
            o Menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang telah ada
            o Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh
            o Menghargai budaya lokal
            o Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta
            o Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan
            o Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat , berbangsa dan bernegara

Disaster Management sendiri juga dibagi menjadi beberapa model, yaitu:
* Disaster management continuum model
                        Model tradisional, manajemen bencana terjadi secara bertahap. Fokusnya lebih pada kegiatan mitigasi dan kesiapsiagaan segera/cepat          
* Pre-during-post disaster model
            Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana tejadi, dan setelah bencana. Sering digabung dengan continuum model.
            * Contract-expand model
            Proses berkesinambungan, serangkaian kegiatan berjalan berdampingan, bisa ditingkatkan lagi atau tergantung pada permintaan dan kondisi.
            * The crunch and release model
            * Manajemen yang menekankan upaya mengurangi kerentanan untuk mengatasi bencana
            * Bencana hanya bersifat trigger, kerentanan dipandang berasal dari proses sosio-ekonomi dan politik yang harus ditangani untuk pengurangan resiko bencana

1.2 Ruang Lingkup
            Ruang Lingkup yang akan dibahas pada Paper ini yaitu terdiri dari :
            1. Sejarah Disaster Management
            2. Sejarah Disaster Management pada peusahaan IT
            3. Contoh Perusahaan yang menggunakan Disaster Management
            4. Menjelaskan cara dan bagaimana proses Disaster Management

1.3 Tujuan dan Manfaat
   1.3.1 Tujuan
            1. Memperkenalkan metode Disaster Management
            2. Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai Disaster Management
            3. Memberikan contoh mengenai perusahaan yang menggunakan Disaster 
       Management
            4. Menjelaskan bagaimana perusahaan melakukan tindakan Disaster Management 
   saat bencana terjadi


  1.3.2 Manfaat
            1. menstabilkan pelayanan kepada masyarakat meskipun sedang terjadi bencana
            2. membantu masyarakat dalam menerima dan mengirim informasi di tengah-tengah 
   bencana

1.4 Metodologi Penelitian
            Metodologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan paper ini yaitu menggunakan metode studi pustaka, dengan melakukan pencarian pada situs-situs pengetahuan pada mesin pencarian (browser)

1.5 Sistematika Penulisan
            BAB 1 : Pendahuluan
                        Pada bab ini penulis menjelaskan mengenai latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan dan manfaat pda paper, metode penelitian yang digunakan dan sistematika penulisan mengenai Disaster Management.
            BAB 2 : LANDASAN TEORI
                        Pada bab ini akan dijelaskan teori-teori umum mengenai Disaster Management berdasarkan pengertian para ahli yang membahas teori  Disaster Management, dimana teori tersebut dapat membantu untuk memberikan penjelasan yang bermanfaat
            BAB 3 : Pembahasan Disaster Management
                        Pada bab ini akan dijelaskan mengenai sejarah Disaster Management secara umum dan pada perusahaan IT, lembaga-lembaga yang berfokus pada Disaster Management, tentang pengelolaan bencana yang dilakukan perusahaan, Bagaimana perusahaan tersebut melakukan aksi pengelolaan bencana di saat bencana terjadi
            Bab 4 : KESIMPULAN
                        Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan yang diambil dari penjelasan berdsarkan penjelasan yang telah dicantumkan


BAB 2
Landasan Teori

            Pengelolaan bencana telah dipikirkan sejak dulu dan sudah banyak perusahaan yang telah menerapkan pengelolaan bencana demi menjaga kelangsungan perusahaannya. Berikut teori-teori tentang pengelolaan bencana:

            * Thomas Drabek “Bagaimana mengkoordinasikan orang-orang dan peralatan yang diperlukan dalam menanggulangi dampak bencana alam, bencana buatan, maupun aksi terorisme”

           Berdasarkan beberapa teori dari para ahli yang disebutkan diatas, Pengelolaan bencana (disaster management) adalah bagaimana kita semua mempersiapkan orang-orang dan peralatan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana. 

BAB 3
Pembahasan Disaster Management

            Sebenarnya sudah sejak zaman purba orang-orang telah mencari cara untuk tetap bertahan dari berbagai bencana, termasuk orang Jepang yang mencari cara untuk terus bertahan di antara hantaman gempa dan tsunami yang sejak lama menjadi langganan warga Jepang.
Sejarah Disaster Manegement
            Ide untuk mengelola bencana telah dicanangkan sesaat setelah gempa besar dan tsunami merusak banyak bangunan di San Francisco, Amerika Serikat pad tahun 1906. Namun baru pada tahun 1978, pemerintah Amerika Serikat mendirikan badan baru yang bernama Federal Emergency Menegement Agency (FEMA). Badan ini sebenarnya mengkoordinasikan badan lainnya, seperti National Response Coordination Center (NRCC), National Disaster Medical System (NDMS), Urban Search and Rescue (US&R), dan lain-lain sesuai keperluannya.
            Selain bertugas mengkoordinir, FEMA juga menyelenggarakan banyak pelatihan-pelatihan untuk warga AS sendiri, seperti cara berlindung dari hantaman badai, bahkan pelatihan menjadi relawan bencana.

Disaster Management pada perusahaan berbasis IT
            Untuk perusahaan yang berbasis IT, pengelolaan bencana mulai dikembangkan pada pertengahan dan akhir 1970-an. Hingga pada akhirnya didirikan perusahaan IT pertama yang menerapkan prinsip disaster management, Sungard Availability Systems pada tahun 1978 di Philadelphia.
            Beberapa tahun kemudian, banyak perusahaan IT lainnya juga menerapkan disaster management, termasuk Telkomsel yang didirikan pada tahun 1995.

Disaster Management pada perusahaan Telkomsel
            Telkomsel didirikan pada tahun 1995 sebagai wujud semangat inovasi untuk mengembangkan telekomunikasi Indonesia yang terdepan. Untuk  mencapai visi tersebut, Telkomsel terus memacu pertumbuhan jaringan telekomunikasi di seluruh penjuru Indonesia secara pesat sekaligus memberdayakan masyarakat.
            Telkomsel menjadi pelopor untuk berbagai teknologi telekomunikasi selular di Indonesia, termasuk yang pertama meluncurkan layanan roaming internasional dan layanan 3G di Indonesia. Telkomsel merupakan operator yang pertama kali melakukan ujicoba teknologi jaringan pita lebar LTE. Di kawasan Asia, Telkomsel menjadi pelopor penggunaan energi terbarukan untuk menara-menara Base Transceiver Station (BTS). Keunggulan produk dan layanannya menjadikan Telkomsel sebagai pilihan utama pelanggan di seluruh Indonesia.
            Memasuki era ICT (Information and Communication Technology), Telkomsel terus mengoptimalkan pengembangan layanan di Indonesia dengan memanfaatkan potensi sinergi perusahaan induk yaitu PT Telkom (65%) dan SingTel Mobile (35%). Telkomsel terus mengembangkan layanan telekomunikasi selular untuk mengukuhkan posisi sebagai penyedia layanan gaya hidup selular, a truly mobile lifestyle.
            Telkomsel memiliki komitmen untuk menghadirkan layanan mobile lifestyle unggulan sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan pelanggan. Telkomsel menghadirkan teknologi agar bangsa Indonesia dapat menikmati kehidupan yang lebih baik di masa mendatang dengan tetap mendukung pelestarian negeri. 
            Untuk itulah, Telkomsel secara aktif mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai sumber energi untuk menara BTS serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi remaja dan masyarakat yang kurang mampu. Melalui peningkatan kualitas masyarakat dan pelestarian lingkungan, Telkomsel berpartisipasi aktif untuk masa depan bangsa yang lebih baik.
            Untuk sistem manajemen bencana, Telkomsel memilih untuk menempatkan berbagai data centernya di beberapa daerah yang termasuk aman dari gempa, seperti di Balikpapan dan Cikarang Bekasi. Dengan kerjasama oleh PT IBM Indonesia, Telkomsel menerapkan metode mirroring data. Mirroring adalah proses menggandakan data secara simultan ke berbagai server yang terhubung dengannya. Dengan mirroring data, risiko kehilangan data pelanggan akan bisa dikurangi karena beberapa data yang sama tersedia di berbagai server di seluruh Indonesia.
            Sebagai tindakan perventif yang aktif dalam menyajikan layanannya, Telkomsel di semua BTS nya juga dilengkapi dengan suplai listrik cadangan berupa UPS dan genset, berguna jika suatu saat suplai listrik dari PLN tiba-tiba terputus. Hal ini dibuktikan dengan bencana banjir baru-baru ini. Pada bencana banjir kali ini, PLN melakukan pemadaman listrik demi mencegah terjadinya korsleting listrik akibat beberapa gardunya terendam air. Untuk langkah preventifnya, Telkomsel segera mengaktifkan UPS dan genset untuk menjaga layanannya tetap prima di tengah-tangah bencana, seperti yang terjadi di Yogyakarta.
            Semua ini dapat terealisasi dengan baik dengan adanya bantuan dari salah satu divisi Telkomsel, yaitu TERRA (Telkomsel Emergency Response Recovery Activity). Divisi ini turut aktif pada detik-detik bencana terjadi.
.
 BAB 4
Kesimpulan

            Dari sekian banyak tindakan-tindakan preventif yang dilakukan Telkomsel, tampaknya Telkomsel terus berkomitmen untuk menjadi operator seluler nomor satu di Indonesia. Berbagai bencana menghadang, Telkomsel tetap memberikan layanan yang prima untuk masyarakat Indonesia.

Rahman
http://www.binus.ac.id/

Senin, 03 Maret 2014

CV Saya

http://1drv.ms/1gO7Hjt

Minggu, 02 Maret 2014

Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi Green Computing Pada Perusahaan Google


Tugas Paper Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi


Green Computing Pada Perusahaan Google
 
Abstrak

                  Pada zaman modern saat ini, Teknologi semakin maju dan berkembang, dimana teknologi tersebut membantu memudahkan pekerjaaan yang dikerjakan pada kehidupan sehari-hari, sehingga para user terus melakukan inovasi pada bidang teknologi. Salah satu perkembangan teknologi yang diterapkan yaitu pada bidang Teknologi informatika, perkembangan teknologi informatika diliat dari berbagai sudut pandang, salah satunya pada lingkungan sehari-hari. Oleh karena itu maka dibuatkan suatu cara yang disebut Green Computing. Green Computing merupakan suatu cara dimana para user menggunakan suatu perangkat komputerisasi dengan memanfaatkan sumber daya energi sebaik mungkin sehingga menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.
                       Paper ini berfokus pada sejarah perkembangan Green Computing , konsep Green Computing, solusi Green Computing, serta contoh perusahaan yang menerapkan Green Computing.
 Kata Kunci : Green Computing, Data Center, Prinsip Green Computing



Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
           Teknologi semakin maju dan berkembang bersamaan dengan perkembangan zaman, teknologi telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari dimana teknologi berperan besar dalam berbagai kegiatan yang dikerjakan sehari-hari, oleh karena itu teknologi saat ini berkembang menjadi lebih canggih dan berdasarkan perkembangan teknologi, penggunaan energi yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi dari teknologi tersebut juga sangat besar.
           Salah satu perangkat teknologi yang sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari yaitu komputer, komputer merupakan salah satu perangkat teknologi yang penggunaan energy nya sangat besar sehingga dapat membuat pihak pengguna merasa terbebani dalam faktor penggunaan biaya.
           Oleh karena itu pada zaman modern ini banyak user yang mulai memikirkan cara dalam penghematan energy pada suatu teknologi yang semakin lama semakin lebih canggih, Green Computing merupakan salah satu metode yang diciptakan untuk membantu para user  dalam penghematan energi dan biaya pada zaman modern saat ini, karena dengan melakukan penghematan biaya maka dapat membantu dunia yang kita tempati saat ini menjadi lebih effisien, salah satu nya untuk menghadapi Global Warming.
            Green Computing adalah suatu metode dimana para user menggunakan suatu perangkat komputerisasi dengan memanfaatkan sumber daya energi sebaik mungkin sehingga menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan. Biasanya Green Computing diterapkan pada lingkungan kerja yang lebih banyak menggunakan energi dalam pengoperasian peralatan elektronik seperti komputer dan peralatan elektronik lain nya.



1.2 Ruang Lingkup
            Ruang Lingkup yang akan dibahas pada Paper ini yaitu terdiri dari :
1.                  Sejarah Green Computing
2.                  Statistik Sampah Elektronik
3.                  Contoh Perusahaan yang menggunakan Green Computing
4.                  Menjelaskan cara dan bagaimana mengajak Client dalam menerapkan Green Computing
1.3 Tujuan dan Manfaat
    1.3.1 Tujuan
            1. Memperkenalkan metode Green Computing
            2. Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai Green Computing
            3. Memberikan informasi data perhitungan mengenai sampah elektronik     
        4. Memberikan contoh mengenai perusahaan yang menggunakan Green      Computing              1.3.2 Manfaat
            1. mengajak masyarakat untuk lebih berhemat dalam penggunaan energy
            2. membantu masyarakat untuk lebih efisien

1.4 Metodologi Penelitian
            Metodologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan paper ini yaitu menggunakan metode studi pustaka, dengan melakukan pencarian pada situs-situs pengetahuan pada mesin pencarian (browser)

1.5 Sistematika Penulisan
            BAB 1 : Pendahuluan
            Pada bab ini penulis menjelaskan mengenai latar belakang, ruang lingkup penulisan, tujuan dan manfaat pda paper, metode penelitian yang digunakan dan sistematika penulisan mengenai  Green Computing.
                BAB 2 : LANDASAN TEORI
            Pada bab ini akan dijelaskan teori-teori umum mengenai Green Computing berdasarkan pengertian para ahli yang membahas teori  Green Computing, dimana teori tersebut dapat membantu untuk memberikan penjelasan yang bermanfaat
               
                BAB 3 : Pembahasan Green Computing
            Pada bab ini akan dijelaskan mengenai sejarah Green Computing, statistik sampah elektronik (e-waste), tentang Penghematan Energi yang dilakukan perusahaan, Bagaimana perusahaan tersebut mengajarkan kliennya untuk ikut serta berhemat energy
            Bab 4 : KESIMPULAN
            Pada bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan yang diambil dari penjelasan berdsarkan penjelasan yang telah dicantumkan

























BAB 2
Landasan Teori
Green Computing atau Green IT  telah dipelajari sejak dulu dan beberapa ahli telah mengemukakan beberapa teori mengenai Green Computing, beberapa teori Green Computing tersebut adalah:
·            Young Yi “Cara untuk menggunakan komputer lebih berkelanjutan”
·            Wachara Chantatub “Teknologi informasi adalah ramah lingkungan dan hemat energy”
·             San Murugesan “Belajar dan praktek merancang, membuat, menggunakan, dan membuang komputer, server, dan terkait subsistem – seperti monitor, printer, penyimpanan perangkat, dan jaringan dan komunikasi sistem – efisien dan efektif dengan minimal atau tidak berdampak terhadap lingkungan”
·             Jordi Torres “Mengurangi penambahan jumlah dari data/ kerja yang tidak berguna”

            Berdasarkan beberapa teori dari parah ahli yang disebutkan diatas, Green Computing yaitu penciptaan teknologi yang ramah lingkungan yang hemat energi serta pemanfaatan teknologi secara efisien.



BAB 3
Pembahasan Green Computing

            Ide green computing sendiri mulai dirintis tahun 1990-an, yang dimana mulai terasa pemborosan energi yang ada. Kabar buruknya, banyak sumber energi yang kita pakai sekarang ini merupakan jenis yang tidak dapat diperbarui, seperti penggunaan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) yang jelas-jelas menggunakan bahan bakar fosil yang membutuhkan jutaan tahun untuk pembentukannya. Demikian juga PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Sejarah Green Computing
            Untuk mendukung green computing, dibentuklah sebuah badan di Amerika Serikat yang bernama US Environmental Protection Agency (US EPA) pada tahun 1992. Dan beberapa peralatan elektronik dan komputer yang telah berusaha mengefisiensikan penggunaan energi dilabeli dengan stiker “Energy Star”. Dan di stiker “Energy Star” pun ada tanda rating-nya, yang dimana penggunaan energi yang paling efisien akan diganjar dengan rating besar. Salah satu untuk menaikkan ratingEnergy Star” adalah dengan menambahkan fitur Sleep Mode, yang dimana bisa mematikan peralatan itu sendiri apabila tidak digunakan oleh pengguna dalam jangka waktu tertentu. Namun pada tahun 2007, direvisilah standar “Energy Star”, yang dimana perusahaan manufaktur peralatan elektronik dan komputer juga harus memperhatikan hal-hal berikut seperti pengurangan sampah elektronik atau e-waste, virtualisasi resource sejumlah server, pendataan biaya pemakaian energi, dll.
            Di sisi lain, gebrakan penting dalam sejarah green computing adalah pembentukan Kyoto Protocol pada tahun 1997, yang bertujuan menekan emisi karbon. Aturan ini membuat perusahaan manufaktur peralatan elektronik dan komputer menghitung pemakaian listrik selama pengoperasian pabriknya dan menentukan jumlah emisi karbon dioksida yang terbuang demi menindaklanjuti solusinya.
            Pengefisienan energi ternyata tak cukup untuk sebuah program green computing, maka dibentuklah kebijakan Restriction of Hazardous Substances (RoHS) oleh Uni Eropa pada Februari 2003. Kebijakan ini melarang penggunaan material yang berbahaya bagi lingkungan pada setiap peralatan elektronik dan komputer seperti timbal, cadmium, merkuri, dll. Tak puas sampai di situ, dibentuk juga program yang bernama Waste Electrical and Electronic Equipment Directive (WEEE) pada tahun 2005, yang bertujuan mengelola pengumpulan dan daur ulang sampah elektronik.
            Di Amerika Serikat sendiri ada juga standar lainnya selain "Energy Star", yaitu Electronic Products Environmental Assessment (EPEAT), yang dimana akan memberikan insentif pasar sebesar 60 miliar dolar Amerika untuk perusahaan yang bisa memproduksi peralatan yang tak hanya memininalkan penggunaan energi, tetapi juga meminimalkan perawatan dan mempunyai masa pakai yang panjang.
Statistik sampah elektronik (e-waste)
            Berdasarkan statistic fakta tentang e-waste yang dihimpun www.dosomething.org, 80-85% peralatan elektronik dibuang sembarangan di Tempat Pembuangan Akhir yang sebenarnya dapat mencemarkan udara berupa racun. Di Amerika Serikat sendiri, e-waste mewakili 2% dari total pembuangan sampah, tetapi juga mewakili 70% dari sampah beracun. Jumlah timbal yang besar di peralatan elektronik menyebabkan kerusakan syaraf tubuh manusia, darah dan ginjal. Di seluruh dunia, ada sekitar 20-50 juta ton sampah elektronik dibuang setiap tahunnya. Di antara sampah elektronik yang dibuang, ponsel mengandung banyak logam berharga seperti emas dan perak. Sampai saat ini, baru 1/8 sampah elektronik yang dapat diperbarui. Dan masih banyak lagi.
Tentang Penghematan Energi yang dilakukan Google
            Google, salah satu perusahaan IT terbesar di dunia, telah menyadari bahwa biaya operasional perusahaannya dapat ditekan semaksimal mungkin dengan penerapan green computing, Segala aspek energi tak luput dari penghematan yang telah dilakukan Google. Berikut beberapa upaya penghematan kontinu yang telah dilakukan Google.
            Pertama, penggunaan energi di Data Center Google. Menurut Google, mereka mengklaim hanya menggunakan separuh dari energi yang digunakan di data center lain dengan kemampuan dan performa yang sama. Untuk mewujudkan hal ini, Google selalu mengawasi penggunaan energi oleh server secara realtime, mengatur sirkulasi udara, bahkan menghindari penggunaan AC.
            Kedua, sumber energi. Google diklaim telah memaksimalkan energi terbarukan seperti energi angin dan surya (matahari) untuk data center mereka dan juga kantor-kantornya.
            Ketiga, aktivitas yang hemat energi. Google mengklaim telah memboyong karyawannya di seluruh dunia untuk menerapkan energi terbarukan di kantor-kantor mereka di seluruh dunia dan melestarikan bersepeda untuk bekerja (bike to work).
            Keempat, desain bangunan di kantor-kantor Google di seluruh dunia. Tak hanya aktivitas yang hemat energi yang diembani karyawannya, tetapi juga struktur bangunannya yang harus nyaman sepanjang hari dan mempunyai pencahayaan yang cukup pada siang dan malam hari serta meminimalkan penggunaan lampu terutama di siang hari.
            Di samping upaya-upaya itu, Google juga berupaya meminimalkan pembelian baru peralatan yang digunakan untuk mendukung siklus hidup Google, dan bahkan semaksimal mungkin merekondisikan peralatan-peralatan yang rusak sehingga masih tetap digunakan dalam waktu yang lama. Atas usaha penghematan energi yang dilakukan Google, Google diganjar berbagai sertifikat-sertifikat yang berkaitan dengan lingkungan, seperti ISO 14001, OHSAS 18001 dan ISO 50001.
Bagaimana Google mengajarkan kliennya untuk ikut serta berhemat energi
            Google tak hanya mementingkan diri sendiri dalam berhemat energi, tetapi juga orang lain yang menggunakan produk Google, khususnya dalam hal cloud computing. Beberapa contoh tersebut adalah:
            Pertama, penerapan cloud storage. Google mengajak para stakeholders untuk ikut serta berhemat energi dengan menggunakan penyimpanan data melalui jaringan internet (cloud). Hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko kehilangan data di media simpan pribadi masing-masing penggunanya. Dan Google sendiri pun menyimpan data secara redundan di beberapa data center untuk file pengguna yang sama. Hal ini bertujuan jika salah satu data center mengalami kerusakan / bencana, masih ada cadangannya di data center di tempat lain. Keuntungan lainnya yang bisa dirasakan pengguna adalah kemudahan untuk mengakses data di manapun dan kapanpun, jadi tidak ada lagi cerita ketinggalan media simpan.
            Kedua, penerapan cloud apps. Tahukah anda bahwa setiap komputer kira-kira membutuhkan 80 GB di hard disknya hanya untuk menampung aplikasi? Melalui Google Apps, pengguna tidak perlu dipusingkan dengan itu. Semua aplikasi yang dijalankan akan ditampilkan berbasis web. Dengan demikian, tidak ada lagi cerita kerusakan software di komputernya.
            Ketiga, Chromebook. Berbeda dengan laptop lainnya, laptop besutan Google ini tidak menggunakan hard disk yang berkapasitas besar, melainkan hanya menggunakan SSD berkapasitas 32-64 GB. Dan kapasitas seperti ini hanya muat untuk sistem operasi dan beberapa aplikasi pendukung cloud computing. Hal ini sengaja dilakukan oleh Google untuk memotivasi pengguna untuk menyimpan segalanya melalui jaringan internet (cloud).
            Dengan penerapan cloud computing, risiko kehilangan data dan keribetan instalasi aplikasi di komputer dapat diminimalisir. Upaya-upaya tersebut juga telah menunjukkan kepedulian bagi Google dan orang lain untuk berupaya menghemat energi.



BAB 4
KESIMPULAN
            Dari sekian banyak usaha-usaha penghematan yang dilakukan Google, tampaknya Google benar-benar serius dalam mendukung aktivitas green computing, sambil menghemat biaya operasionalnya.
            Pepatah berkata,
            "Sedikit-sedikit lama kelamaan akan menjadi bukit"
            Pepatah tersebut menunjukkan bahwa dampak besar dapat dimulai dari hal-hal kecil. Dan ini juga bisa diterapkan dalam upaya penghematan energi. Jadi, mulailah dari hal-hal kecil, seperti mematikan lampu di siang hari dan menggunakan lanpu hemat energi yang dampaknya pada penggunaan energi yang sedikit. Penghematan energi juga dampaknya akan dirasakan oleh anak cucu kita di kemudian hari.




Referensi
http://www.brighthub.com/environment/green-computing/articles/71176.aspx
http://www.dosomething.org/actnow/tipsandtools/11-facts-about-e-waste
https://www.google.com/green/
https://www.google.com/chromebook/


Rahman
http://www.binus.ac.id/